Friday, October 20, 2017

Cuitan Nikita Bermakna Penghinaan? Ah masa?

Bosan dengan politik? Ada sebuah kasus menarik untuk disimak. Berita mengenai pernyataan yang dianggap menghina seorang panglima TNI. Dilaporkan bahwa akun Twitter atas nama @NikitaMirzani menuliskan kalimat yang kurang pantas. Selengkapnya silahkan dibaca pada artikel berikut: https://news.detik.com/berita/d-3670685/dipolisikan-karena-hina-panglima-tni-nikita-mirzani-siap-kooperatif

Terlepas apakah akun itu merupakan akun miliknya atau bukan, rasanya lebih masuk akal jika kita membahas isi dari pernyataannya. Bukan begitu?

Dalam cuitannya, pemilik akun @NikitaMirzani menulis, "film G30S/PKI Kurang Seru. Seharusnya Panglima Gatot juga Dimasukkan kelubang buaya pasti seru..". Benarkah pernyataan itu merupakan kalimat penghinaan? Nanti dulu.

Perlu diketahui, dalam kalimat itu ada beberapa aspek yang memang sedang menjadi trending topic belakangan ini. Pertama, PKI dan kedua Panglima Gatot. Yuk kita bahas pelan-pelan.

Saat ini isu kebangkitan PKI sedang marak-maraknya. Aksi dan pernyataan disana-sini pasti sudah pernah terdengar oleh pembaca. Hal ini mau tidak mau, secara langsung dan tidak langsung turut berpengaruh terhadap persepsi dan paradigma masyarakat mengenai PKI. Entah berupa kebencian, ketakutan maupun kewaspadaan terhadap partai yang jelas-jelas terlarang di Indonesia itu. Padahal, apa sudah ada bukti eksistensinya? Ah, no comment.

Berikutnya, Panglima Gatot. Kemungkinan besar yang dimaksud adalah Jenderal Gatot Nurmantyo. Bukan rahasia lagi jika beliau sedang menjadi trending topic beberapa waktu terakhir. Selain sikapnya yang tegas, beliau juga beberapa kali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengundang kontroversi, dan menimbulkan pro-kontra di masyarakat.

Salah satunya, Jenderal Gatot mengeluarkan ajakan untuk bersama-sama menonton film G30S/PKI yang diputar pada tanggal 30 September. Selengkapnya, bisa dibaca pada artikel berikut: http://nasional.kompas.com/read/2017/10/04/14020641/8-kontroversi-panglima-gatot-yang-dinilai-politis-versi-kontras

Dengan adanya dua elemen yang sedang hits tersebut, maka pernyataan akun @NikitaMirzani tersebut langsung ter-blow up. Padahal, seandainya pernyataan itu tidak menyenggol unsur PKI dan Jenderal Gatot Nurmantyo, mungkin tidak akan seheboh ini.

Satu hal yang mungkin terlewat dan kurang diperhatikan adalah lubang buaya. Lubang buaya disini dapat saja mengacu pada 2 hal. Pertama, Lubang Buaya yang jelas merupakan lokasi utama terjadinya peristiwa G30S/PKI. Di lokasi ini didirikan Monumen Pancasila Sakti, yang terkenal dengan keberadaan patung-patung Pahlawan Revolusi. Kedua, lubang buaya yang dimaksud merupakan makna yang sesungguhnya. Denotatif. Benar-benar lubang yang berisi buaya. Sudah lihat perbedaannya?

Jika diperhatikan dengan seksama kalimat “seharusnya Panglima Gatot juga dimasukkan ke lubang buaya pasti seru”, muncul penafsiran ganda. Tidak bisa hanya serta-merta ditafsirkan beliau masuk ke sebuah lubang yang berisi buaya. Bisa mengandung arti Jenderal Gatot Nurmantyo datang ke Lubang Buaya, nonton bareng untuk membuat acara menjadi lebih seru. Why not? Toh hari itu beliau menonton filmnya bersama Presiden di Bogor.

Kembali ke artis Nikita Mirzani. Mendengar dirinya dilaporkan, public figure ini mengatakan bahwa semua itu hoax. Niki mengaku tidak pernah mengeluarkan pernyataan mengenai PKI maupun panglima. Bahkan dirinya sudah lama tidak menggunakan akun Twitter miliknya.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan beliau, sebenarnya ini bukan kali pertama Niki berurusan dengan kepolisian. Sudah beberapa kali bahkan. Jenis kasusnya pun beragam. Jadi, bukan hal yang heboh juga sebenarnya apabila ini dilakukan. Tapi, dalam hukum tentu setiap orang dianggap sama. Dan sama-sama menyandang asas praduga tak bersalah. Bukan Asas Kau Bahagia ya. Eh?

Jika memang benar yang disampaikan olehnya, maka bisa jadi itu merupakan tindakan hacking, atau hanya berupa rekayasa gambar yang diedit oleh pelaku. Entah motifnya apa. Untuk ketenaran diri? Atau untuk bersenang-senang? Atau malah karena ada dendam pribadi? Ah, saya no comment saja.

Meski beritanya sudah tersebar luas, Jenderal Gatot Nurmantyo cenderung tidak menaggapi hal ini dengan serius. Beliau pun tidak memperkeruh suasana dan relatif membiarkan saja. Apesnya, cuitan itu sudah dilaporkan, dan mau tidak mau akan diusut. Kecuali jika pelapor mencabut laporannya.

Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua. Baik penulis dan para pembaca. Pertama, sebagai subyek. Hati-hatilah dalam menulis di media, baik itu media cetak maupun media elektronik. Sudah banyak yang berurusan dengan pihak yang berwajib karena kurang hati-hati dalam menyampaikan opininya. Argumen itu baik, asal disampaikan dengan iktikad dan cara yang baik pula. Jangan sampai maksud dan tujuan yang sebenarnya baik malah jadi rusak karena pemilihan diksi yang kurang bersahabat.

Kedua, sebagai pembaca/pendengar/penonton. Wajib berhati-hati dalam bereaksi. Apabila menemukan suatu artikel, disarankan melakukan penelusuran dari beberapa sumber, terutama dari media-media yang benar-benar kredibel. Jangan cepat puas dan segera mengambil kesimpulan hanya dari satu sumber saja. Kemudian, baca dengan seksama. Jangan terbiasa baca judul lalu share!

Posisikan diri Anda di berbagai sudut pandang. Baik sebagai pihak pelaku, pihak korban, pihak pro, maupun pihak kontra. Berusahalah tetap bersikap senetral mungkin. Itu tentu akan membuat reaksi yang dibuat menjadi lebih bijak.

Oiya, hindari kata-kata makian atau umpatan yang kasar. Menggunakan nama-nama fauna, misalnya. Itu akan menunjukkan emosi yang berlebihan dan tentu pembaca akan lebih terbakar lagi emosinya. Nanti malah jadi lebih ruwet loh urusannya. Mungkin umpatan fauna bisa diganti dengan nama-nama flora. Misalnya, “Dasar kamu pohon palem!” atau “Ah, dia memang bunga sepatu!”. Terdengar lebih baik, bukan?

No comments:

Post a Comment